Coba ingat satu hal kecil yang belum kamu selesaikan hari ini.
Mungkin ada pesan yang belum dibalas, pekerjaan yang baru setengah jalan, atau satu episode cerita yang berhenti tepat sebelum bagian penting. Anehnya, hal-hal seperti ini kadang justru lebih sering muncul di kepala daripada sesuatu yang sudah selesai.
Kenapa?
Salah satu konsep dalam psikologi yang mencoba menjelaskan fenomena tersebut adalah Zeigarnik effect. Ide dasarnya menarik: sesuatu yang belum selesai bisa terasa seperti masih "terbuka" dalam pikiran kita.
Poin Penting
- Tugas yang belum selesai dapat terus menarik perhatian kita.
- Zeigarnik effect berkaitan dengan ingatan terhadap aktivitas yang terhenti.
- Efek ini tidak selalu muncul secara konsisten dalam penelitian.
- Motivasi dan situasi dapat memengaruhi kuat-lemahnya efek.
- Tugas yang belum selesai juga dapat memengaruhi pikiran di luar aktivitas utama.
Kenapa Hal yang Belum Selesai Terasa Sulit Ditinggalkan?
Bayangkan kamu sedang mengerjakan sebuah proyek. Kamu sudah menyelesaikan sebagian besar pekerjaan, tetapi masih ada satu bagian kecil yang tertunda.
Secara fisik, kamu mungkin sudah meninggalkan meja. Namun beberapa saat kemudian, pikiranmu kembali ke bagian tadi.
"Bagian itu belum beres."
Lalu kamu mengingat apa yang sudah dikerjakan, apa yang masih kurang, dan apa yang harus dilakukan berikutnya.
Di sinilah konsep Zeigarnik effect menjadi menarik. Aktivitas yang belum mencapai titik selesai dapat tetap mendapatkan perhatian mental, seolah-olah otak belum sepenuhnya menutup urusan tersebut.
Tetapi kita perlu berhati-hati. Ini bukan berarti otak manusia selalu menyimpan semua tugas yang belum selesai lebih baik daripada tugas yang sudah selesai. Penelitian mengenai efek ini menunjukkan hasil yang tidak selalu konsisten.
Zeigarnik effect adalah pola psikologis yang dapat muncul dalam kondisi tertentu, bukan aturan bahwa semua tugas yang belum selesai pasti lebih mudah diingat.
Dari Tugas yang Terhenti ke Pikiran yang Terus Kembali
Ada perbedaan antara "mengingat sesuatu" dan "terus memikirkannya".
Sebuah tugas yang belum selesai bisa tetap berada dalam perhatian karena kita masih memiliki tujuan yang berkaitan dengannya. Selama tujuan itu belum tercapai, pikiran dapat kembali pada informasi yang dianggap relevan untuk menyelesaikannya.
Misalnya, kamu sedang menulis laporan dan berhenti sebelum bagian kesimpulan. Ketika beralih mengerjakan hal lain, kamu mungkin tiba-tiba teringat argumen yang belum kamu masukkan.
Bukan karena kesimpulan tersebut memiliki kekuatan magis untuk masuk ke kepala, tetapi karena pekerjaan itu masih memiliki status yang belum selesai.
Sebaliknya, setelah sebuah tugas benar-benar dituntaskan, alasan untuk terus memusatkan perhatian pada tugas tersebut biasanya berkurang.
Inilah salah satu cara sederhana untuk memahami konsepnya: penyelesaian dapat mengubah status mental sebuah tujuan.
Kenapa Efek Ini Tidak Selalu Terjadi?
Bagian ini penting karena Zeigarnik effect sering terdengar jauh lebih sederhana daripada kenyataan.
Penelitian lanjutan menemukan bahwa hasil eksperimen mengenai ingatan untuk tugas yang belum selesai tidak selalu berhasil direplikasi dengan cara yang sama. Faktor seperti motivasi, keterlibatan terhadap tugas, cara tugas dihentikan, dan kondisi eksperimen dapat memengaruhi hasil.
Jadi, kita sebaiknya tidak mengatakan:
"Semua tugas yang belum selesai akan selalu lebih mudah diingat."
Pernyataan yang lebih hati-hati adalah bahwa ketidakselesaian suatu tugas dapat memengaruhi perhatian, ingatan, atau dorongan untuk kembali mengerjakannya dalam kondisi tertentu.
Perbedaan kecil dalam kondisi bisa menghasilkan pengalaman yang berbeda. Kalau sebuah tugas memang penting bagi kita, misalnya, kemungkinan kita terus memikirkannya tentu berbeda dibandingkan tugas yang sejak awal tidak terlalu kita pedulikan.
Kenapa Cerita yang Menggantung Begitu Menarik?
Sekarang coba pindahkan konsep ini dari pekerjaan ke cerita.
Sebuah film berhenti ketika konflik utama belum terpecahkan. Sebuah novel berakhir di tengah pertanyaan besar. Atau sebuah serial menutup episode tepat ketika kita ingin tahu apa yang terjadi berikutnya.
Kita merasa belum mendapatkan penutup.
Rasa penasaran seperti ini memiliki kemiripan dengan prinsip yang dibahas dalam Zeigarnik effect: informasi atau tujuan yang belum terselesaikan dapat terus mempertahankan perhatian kita.
Namun, tidak berarti setiap cliffhanger secara otomatis merupakan bukti Zeigarnik effect. Ketertarikan pada cerita juga dipengaruhi oleh rasa ingin tahu, emosi, ekspektasi, dan seberapa besar kita peduli terhadap hasil akhirnya.
Jadi, lebih aman melihatnya sebagai salah satu cara untuk memahami mengapa ketidakselesaian bisa mempertahankan perhatian, bukan sebagai satu-satunya penjelasan.
Saat Tugas yang Belum Selesai Membantu, dan Saat Justru Mengganggu
Ada sisi produktif dari fenomena ini.
Ketika pikiran terus mengingat pekerjaan yang belum selesai, dorongan tersebut dapat membantu kita kembali ke tugas dan melanjutkan pekerjaan. Dalam situasi tertentu, berhenti di tengah proses juga dapat membuat kita lebih mudah mengingat bahwa masih ada sesuatu yang harus dilanjutkan.
Tetapi ada sisi lainnya.
Kalau terlalu banyak tugas terbuka sekaligus, pikiran kita bisa dipenuhi berbagai "urusan yang belum selesai". Bukannya membantu fokus, hal tersebut justru dapat membuat perhatian terus berpindah dari satu hal ke hal lain.
Itulah sebabnya pengalaman setiap orang bisa berbeda. Satu tugas yang tertunda mungkin membuat kita tetap termotivasi. Sepuluh tugas yang tertunda bersamaan bisa terasa seperti daftar notifikasi mental yang tidak pernah berhenti.
Bedakan tugas yang benar-benar membutuhkan perhatian dari tugas yang sekadar terasa belum lengkap.
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Zeigarnik Effect?
Pelajaran paling menarik dari konsep ini bukan sekadar "otak lebih ingat hal yang belum selesai."
Justru, konsep ini mengajak kita melihat hubungan antara tujuan, perhatian, ingatan, dan penyelesaian.
Ketika kita memiliki tujuan yang belum tercapai, perhatian kita tidak selalu berhenti hanya karena aktivitasnya dihentikan sementara. Pikiran dapat tetap membawa sebagian dari tujuan tersebut ke aktivitas berikutnya.
Tetapi kita juga perlu menjaga jarak dari versi populer yang terlalu sederhana. Zeigarnik effect bukan hukum psikologi yang bekerja identik pada semua orang dan semua keadaan. Bukti penelitian menunjukkan bahwa efek memorinya dapat bergantung pada kondisi tertentu, sementara kecenderungan untuk kembali mengerjakan tugas yang terhenti merupakan fenomena yang berbeda.
Dengan begitu, kita mendapatkan gambaran yang lebih masuk akal: pikiran manusia bukan sekadar tempat penyimpanan informasi. Ia juga terus mengatur tujuan yang sedang aktif, apa yang masih membutuhkan perhatian, dan apa yang sudah dianggap selesai.
Mungkin itu sebabnya satu pekerjaan kecil yang belum dibereskan bisa terasa lebih "berisik" daripada lima pekerjaan yang sudah kita centang.
Dan setelah memahami ini, lain kali ketika sebuah tugas terus muncul kembali di pikiranmu, mungkin menarik untuk bertanya bukan hanya "kenapa aku belum menyelesaikannya?", tetapi juga "apa sebenarnya yang masih dianggap terbuka oleh pikiranku?" Kalau kamu melihat kembali rutinitasmu sendiri, tugas atau tujuan apa yang paling sering tetap muncul di kepala meskipun kamu sudah beralih ke hal lain?