Pernah gak kamu melihat sesuatu yang baru saja terjadi lalu berpikir, “Ya ampun, sebenarnya dari awal sudah kelihatan bakal begini”?
Misalnya, sebuah tim yang awalnya dianggap punya peluang bagus ternyata kalah. Setelah hasil pertandingan keluar, rasanya semua tanda-tandanya mendadak terlihat jelas. Padahal beberapa jam sebelumnya, kamu mungkin masih merasa pertandingan itu sulit ditebak.
Di sinilah ada sesuatu yang menarik tentang cara kita mengingat masa lalu: setelah mengetahui hasilnya, masa lalu bisa terasa jauh lebih mudah diprediksi daripada ketika kita benar-benar sedang menjalaninya.
Poin Penting
- Hindsight bias membuat hasil masa lalu terasa lebih mudah diprediksi.
- Kita bisa mengingat prediksi lama secara tidak akurat setelah mengetahui hasil.
- Bias ini dapat meningkatkan rasa percaya diri secara berlebihan.
- Penilaian terhadap keputusan orang lain juga bisa menjadi kurang adil.
- Mencatat pertimbangan awal membantu membedakan fakta dan ingatan.
Hindsight bias sering muncul dalam bentuk sederhana: “Aku sudah tahu dari awal.”
Masalahnya, kalimat itu belum tentu menggambarkan apa yang sebenarnya kita pikirkan sebelum hasilnya diketahui. Ingatan kita tentang prediksi sebelumnya dapat berubah ketika informasi baru sudah tersedia.
Hasil yang Sudah Diketahui Mengubah Cara Kita Melihat Masa Lalu
Bayangkan kamu sedang memilih antara dua kemungkinan hasil dari sebuah proyek. Keduanya terlihat masuk akal, tetapi kamu akhirnya memilih salah satunya. Beberapa minggu kemudian, proyek tersebut benar-benar berhasil.
Setelah tahu hasilnya, alasan mengapa proyek itu berhasil mungkin terasa sangat jelas. Kamu mulai melihat berbagai tanda yang sebelumnya tampak biasa saja sebagai bukti bahwa keberhasilan tersebut memang sudah bisa ditebak.
Namun ada perbedaan penting antara menemukan penjelasan setelah kejadian dan memprediksi kejadian sebelum terjadi.
Setelah hasil diketahui, kita memiliki informasi yang sebelumnya tidak tersedia. Informasi tersebut membuat cerita masa lalu terasa lebih rapi. Jalannya peristiwa tampak seperti menuju satu titik akhir, meskipun pada saat itu masih ada beberapa kemungkinan.
Itulah inti hindsight bias: hasil yang sudah diketahui dapat membuat ketidakpastian masa lalu terasa lebih kecil daripada kenyataannya.
Menjelaskan mengapa suatu hasil terjadi setelah hasilnya diketahui tidak sama dengan berhasil memprediksinya sebelum hasil tersebut terjadi.
Kenapa Otak Kita Bisa Merasa “Sudah Tahu”?
Ada beberapa proses yang dapat saling berinteraksi.
Pertama, ingatan kita bukan rekaman video yang sempurna. Ketika mengingat keputusan atau prediksi lama, kita tidak selalu mengambil kembali keadaan pikiran kita persis seperti saat itu. Pengetahuan yang kita miliki sekarang dapat memengaruhi cara kita mengingat apa yang dulu kita pikirkan.
Kedua, setelah sebuah hasil terjadi, kita biasanya lebih mudah melihat hubungan antara berbagai informasi yang sebelumnya tampak terpisah. Sebuah keputusan yang tadinya penuh ketidakpastian bisa terlihat lebih masuk akal setelah kita mengetahui konsekuensinya.
Ketiga, ada dorongan psikologis untuk melihat dunia sebagai sesuatu yang dapat dipahami dan diprediksi. Kalau sebuah kejadian terasa masuk akal setelah terjadi, kita mungkin lebih mudah menerima kesan bahwa kejadian tersebut memang seharusnya sudah terlihat sejak awal.
Ketiga proses ini tidak berarti setiap ingatan kita tentang prediksi masa lalu pasti salah. Intinya adalah bahwa mengetahui hasil dapat mengubah cara kita merekonstruksi masa lalu.
“Aku Tahu dari Awal” Bisa Membuat Kita Terlalu Percaya Diri
Dampaknya tidak berhenti pada ingatan.
Kalau kita berulang kali merasa bahwa prediksi kita ternyata selalu benar, kita bisa mulai membentuk keyakinan bahwa kemampuan membaca situasi kita lebih baik daripada kenyataannya. Padahal sebagian dari rasa percaya diri tersebut mungkin muncul karena kita mengingat masa lalu melalui hasil yang sudah diketahui.
Ini bisa menjadi masalah ketika kita membuat keputusan berikutnya.
Orang yang terlalu yakin dengan kemampuan prediksinya mungkin lebih mudah mengabaikan ketidakpastian, kemungkinan alternatif, atau informasi yang bertentangan dengan perkiraannya. Hindsight bias dengan demikian dapat ikut memengaruhi cara seseorang mengevaluasi keputusan dan risiko.
Hal yang sama bisa terjadi ketika kita menilai orang lain.
Setelah mengetahui bahwa seseorang mengambil keputusan yang berakhir buruk, kita mungkin berpikir, “Harusnya dia bisa tahu ini bakal terjadi.”
Tetapi orang tersebut membuat keputusan ketika hasil akhirnya belum diketahui. Menilai keputusan hanya berdasarkan apa yang kita ketahui sekarang dapat membuat situasi masa lalu terlihat lebih sederhana daripada kondisi sebenarnya.
Cara Menjaga Masa Lalu Tetap Terlihat Seperti Masa Lalu
Hindsight bias memang sulit dihilangkan sepenuhnya, tetapi kita bisa membuat penilaian lebih terkalibrasi.
Salah satu cara paling sederhana adalah menyimpan catatan tentang apa yang kita pikirkan sebelum hasil diketahui. Tuliskan pilihan yang tersedia, alasan memilihnya, tingkat keyakinan, dan kemungkinan lain yang saat itu masih terbuka.
Ketika hasil akhirnya muncul, catatan tersebut menjadi pembanding. Kita tidak perlu mengandalkan ingatan yang sudah bercampur dengan informasi baru.
Cara lain adalah sengaja mempertimbangkan hasil alternatif. Jika satu hasil benar-benar terjadi, tanyakan: kemungkinan apa yang sebelumnya juga masuk akal tetapi akhirnya tidak terjadi?
Saat mengevaluasi keputusan lama, pisahkan informasi yang tersedia saat itu dari informasi yang baru diketahui setelah hasil muncul.
Pendekatan ini juga berguna untuk belajar. Daripada hanya bertanya, “Apakah keputusan itu benar?”, kita bisa bertanya, “Dengan informasi yang tersedia saat itu, apakah proses berpikirnya masuk akal?”
Pertanyaan kedua sering menghasilkan evaluasi yang lebih berguna. Keputusan yang berakhir buruk belum tentu merupakan keputusan yang buruk, sama seperti keputusan yang berakhir baik belum tentu berasal dari proses prediksi yang hebat.
Belajar dari Masa Lalu Tanpa Mengubahnya Menjadi Cerita yang Terlalu Sempurna
Hindsight bias mengingatkan kita bahwa memahami masa lalu dan memprediksi masa depan adalah dua aktivitas yang berbeda.
Setelah sesuatu terjadi, kita punya kesempatan untuk menyusun penjelasan yang koheren. Itu berguna untuk belajar. Tetapi kalau kita lupa bahwa penjelasan tersebut dibangun setelah mengetahui hasil, kita bisa keliru menganggap bahwa hasil itu sebenarnya sudah jelas sejak awal.
Kesadaran terhadap bias ini bukan berarti kita harus meragukan semua ingatan atau berhenti mengambil pelajaran dari pengalaman. Justru sebaliknya. Dengan menyadari bahwa hasil dapat memengaruhi cara kita mengingat masa lalu, kita punya kesempatan untuk mengevaluasi keputusan dengan lebih adil dan mempertahankan rasa percaya diri yang lebih realistis.
Jadi, lain kali sebuah kejadian terasa seperti “sudah jelas dari awal”, mungkin ada satu langkah kecil yang layak dilakukan: berhenti sejenak dan tanyakan apa yang benar-benar kamu ketahui sebelum hasilnya muncul.
Setelah mengetahui bahwa hasil dapat mengubah cara kita mengingat prediksi, keputusan masa lalu mana dalam hidupmu yang mungkin terlihat berbeda jika kamu kembali melihatnya hanya dengan informasi yang tersedia saat itu?