Kenapa Informasi Pertama Bisa Mengubah Cara Kita Menilai Sesuatu?
Pernah lihat harga sebuah barang yang awalnya terasa mahal, lalu setelah melihat harga yang lebih tinggi kamu justru merasa harga tadi cukup masuk akal? Menariknya, perubahan penilaian itu bisa terjadi bahkan ketika informasi pertama yang kita terima sebenarnya tidak terlalu relevan.
Di sinilah anchoring bias menjadi menarik. Pikiran kita sering menggunakan informasi awal sebagai titik pembanding ketika harus membuat penilaian, sehingga informasi berikutnya dinilai relatif terhadap titik awal tersebut.
Poin Penting
- Anchoring bias membuat informasi awal memengaruhi penilaian berikutnya.
- Angka yang tidak relevan pun dapat menjadi titik acuan.
- Efek ini sering muncul dalam keputusan harga dan negosiasi.
- Anchoring juga dapat memengaruhi keputusan sehari-hari.
Ketika Angka Pertama Diam-Diam Menjadi Patokan
Misalnya kamu sedang mencari tahu apakah sebuah barang tergolong murah atau mahal. Sebelum membandingkan beberapa pilihan, kamu melihat angka tertentu sebagai harga awal.
Setelah angka itu masuk ke kepala, pilihan lain sering terasa berbeda bukan karena nilainya berubah, tetapi karena kamu membandingkannya dengan angka pertama tadi.
Itulah inti dari anchoring. Informasi awal berfungsi seperti titik koordinat mental. Kita kemudian melakukan penilaian dengan titik tersebut sebagai referensi.
Yang menarik, anchor tidak harus berupa informasi yang benar-benar relevan. Sebuah angka yang muncul secara kebetulan pun dapat memengaruhi perkiraan seseorang.
Informasi pertama tidak otomatis benar hanya karena muncul lebih awal.
Mengapa Perbandingan Bisa Membuat Kita Terjebak?
Kita jarang menilai sesuatu dalam ruang kosong. Ketika menghadapi pilihan, otak membutuhkan referensi untuk menentukan apakah sesuatu terasa tinggi, rendah, banyak, sedikit, murah, atau mahal.
Masalahnya muncul ketika referensi pertama mendapat bobot terlalu besar.
Bayangkan seseorang menawarkan sebuah produk dengan harga Rp800.000. Setelah itu, harga Rp650.000 bisa terasa relatif murah karena pikiran sudah memiliki Rp800.000 sebagai patokan.
Namun, tanpa angka pertama tersebut, penilaian terhadap Rp650.000 mungkin saja berbeda. Bisa jadi harga itu sebenarnya masih mahal dibandingkan pilihan lain yang belum kita lihat.
Jadi, anchoring bukan sekadar soal mengingat angka pertama. Yang lebih penting adalah bagaimana angka tersebut mengubah kerangka perbandingan kita.
Anchoring Tidak Hanya Terjadi Saat Belanja
Efek ini juga dapat muncul ketika kita membuat perkiraan atau mengambil keputusan dalam situasi lain.
Dalam negosiasi, misalnya, angka pertama yang disebutkan dapat menjadi titik awal bagi pembicaraan berikutnya. Tawaran setelahnya kemudian sering dipertimbangkan dalam hubungan dengan angka tersebut.
Hal serupa dapat terjadi ketika kita memperkirakan sesuatu berdasarkan informasi awal. Jika titik awal terlalu tinggi atau terlalu rendah, penyesuaian berikutnya bisa tetap berada di sekitar titik tersebut.
Karena itu, anchoring bisa muncul tanpa kita sadari. Kita merasa sedang mempertimbangkan informasi baru, padahal informasi lama masih menjadi kerangka utama penilaian.
Kenapa Informasi yang Salah Pun Bisa Menjadi Anchor?
Bagian ini mungkin terdengar agak aneh: sebuah informasi tidak harus akurat untuk memengaruhi penilaian.
Kalau sebuah angka sudah muncul sebagai referensi awal, kita bisa saja tetap menggunakannya ketika memproses informasi berikutnya. Akibatnya, kesalahan pada titik awal berpotensi ikut memengaruhi kesimpulan setelahnya.
Ini membuat kemampuan mengevaluasi informasi menjadi penting. Sebelum menerima sebuah angka sebagai patokan, kita perlu bertanya: apakah angka ini memang relevan, atau hanya menjadi titik awal karena muncul lebih dulu?
Sebelum menerima suatu angka sebagai patokan, cari pembanding independen terlebih dahulu.
Cara Mengenali Anchor dalam Keputusan Sehari-hari
Anchoring bias tidak berarti setiap keputusan yang dipengaruhi informasi awal pasti salah. Titik acuan justru sering membantu kita membuat penilaian dengan lebih cepat.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika sebuah informasi awal terus memengaruhi keputusan meskipun sudah tersedia informasi lain yang lebih relevan.
Salah satu cara sederhana untuk mengenalinya adalah dengan memisahkan informasi awal dari informasi berikutnya. Tanyakan pada diri sendiri apakah penilaianmu akan tetap sama jika angka atau informasi pertama tadi tidak pernah kamu lihat.
Kalau jawabannya berubah cukup jauh, mungkin anchor tersebut sedang memainkan peran yang lebih besar daripada yang kamu sadari.
Mengubah Pertanyaan Bisa Mengubah Cara Kita Menilai
Menyadari adanya anchor tidak selalu membuat kita kebal terhadapnya. Namun, kesadaran tersebut memberi kesempatan untuk berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan.
Alih-alih langsung bertanya, “Apakah pilihan ini lebih baik dari angka pertama tadi?”, kita bisa mengubah pertanyaannya menjadi, “Apa dasar yang sebenarnya relevan untuk menilai pilihan ini?”
Perubahan kecil dalam cara bertanya dapat membantu kita melihat keputusan dari titik acuan yang berbeda.
Pada akhirnya, anchoring bias mengingatkan kita bahwa penilaian manusia tidak selalu dimulai dari titik yang benar-benar netral. Informasi pertama yang kita temui bisa ikut menentukan bagaimana informasi berikutnya terasa masuk akal.
Semakin kita sadar terhadap titik acuan yang sedang digunakan, semakin mudah kita membedakan antara penilaian berdasarkan bukti dan penilaian yang sekadar mengikuti patokan awal. Dalam keputusan sehari-hari, kapan kamu pernah menyadari bahwa informasi pertama yang kamu terima ternyata ikut menentukan cara kamu menilai pilihan berikutnya?