Kalau seseorang di Ethiopia menyebut sebuah tanggal yang tahunnya berbeda beberapa angka dari kalender yang biasa kita pakai, jangan buru-buru mengira mereka sedang hidup di masa lalu. Mereka hanya sedang memakai cara lain untuk memberi nomor pada waktu.
Di sinilah kalender Ethiopia menjadi menarik. Sistem ini punya 13 bulan, awal tahun yang jatuh sekitar September, dan penomoran tahun yang berbeda dari kalender Gregorian. Sekilas terdengar seperti kalender yang sengaja dibuat untuk membingungkan orang luar. Padahal, kalau strukturnya diurai, logikanya cukup rapi.
Poin Penting
- Kalender Ethiopia memiliki 13 bulan dalam satu tahun.
- Dua belas bulan pertama masing-masing memiliki 30 hari.
- Pagume menjadi bulan pendek dengan lima atau enam hari.
- Tahun baru biasanya jatuh pada 11 atau 12 September Gregorian.
- Perbedaan penomoran tahun berasal dari sistem kronologi yang berbeda.
Kalender sebenarnya adalah cara manusia memberi koordinat pada waktu. Karena koordinatnya bisa berbeda, satu hari yang sama dapat memiliki nama dan nomor tahun yang berbeda.
Dua Belas Bulan Panjang dan Satu Bulan Pendek
Bagian paling mudah dikenali dari kalender Ethiopia adalah jumlah bulannya.
Dua belas bulan pertama masing-masing memiliki tepat 30 hari. Setelah itu datang Pagume, bulan ke-13 yang jauh lebih pendek. Pagume memiliki lima hari pada tahun biasa dan enam hari pada tahun kabisat.
Struktur ini membuat total tahun tetap menjadi 365 atau 366 hari. Jadi, “13 bulan” bukan berarti Ethiopia memiliki lebih banyak hari dalam setahun daripada kalender Gregorian. Perbedaannya terutama terletak pada bagaimana hari-hari tersebut dibagi.
Ada sesuatu yang elegan di sini: sebagian besar bulan dibuat seragam, sementara sisa hari ditempatkan di satu bagian kecil pada akhir tahun.
Bulan ke-13 bukan tambahan 30 hari; Pagume hanya berisi lima atau enam hari.
Mengapa Tahun Barunya Datang Saat September?
Kalender Gregorian yang paling sering kita gunakan memulai tahun pada Januari. Kalender Ethiopia mengambil titik awal yang berbeda.
Hari pertama tahun Ethiopia, yaitu awal bulan Meskerem, biasanya bertepatan dengan 11 September dalam kalender Gregorian. Pada kondisi tertentu, tanggalnya menjadi 12 September.
Artinya, ketika kalender Gregorian sudah memasuki tahun baru pada Januari, kalender Ethiopia masih berada di bagian akhir tahun sebelumnya. Beberapa bulan kemudian, barulah tahun Ethiopia berganti.
Ini juga menjelaskan mengapa satu tahun Ethiopia tidak bisa begitu saja dipetakan ke satu tahun Gregorian. Satu tahun Ethiopia membentang melintasi bagian dari dua tahun Gregorian.
Kenapa Angka Tahunnya Bisa Berbeda Tujuh atau Delapan Tahun?
Inilah bagian yang sering terlihat paling aneh.
Kalender Ethiopia menggunakan tradisi kronologi yang berbeda dalam menentukan tahun kelahiran Yesus. Perbedaan perhitungan historis tersebut menghasilkan penomoran tahun yang berada sekitar tujuh sampai delapan tahun di belakang kalender Gregorian, tergantung posisi tanggal dalam tahun Gregorian.
Jadi, ketika seseorang melihat tahun Ethiopia yang berbeda dari tahun Gregorian, perbedaannya bukan berarti waktu berjalan lebih lambat di Ethiopia. Tidak ada jam kosmis yang berdetak lebih pelan di sana.
Yang berubah adalah label tahunnya.
Kalau kita dan orang lain memakai sistem penomoran berbeda untuk memberi nama pada tahun yang sama, angka yang muncul memang bisa berbeda meskipun hari yang sedang dijalani identik.
Saat membandingkan dua kalender, bedakan “tanggal yang sama” dari “nomor tahun yang sama”.
Dari Mana Sistem Ini Berasal?
Kalender Ethiopia memiliki hubungan sejarah yang erat dengan tradisi kalender Koptik dan sistem kalender kuno yang berkembang di kawasan Mesir dan Afrika Timur Laut.
Kesamaannya terlihat jelas pada struktur tahun: 12 bulan berisi 30 hari, kemudian beberapa hari tambahan di penghujung tahun. Sistem ini juga menggunakan pola tahun kabisat empat tahunan.
Karena kalender merupakan hasil perkembangan sejarah yang panjang, perbedaan antara kalender Ethiopia dan Gregorian tidak bisa dijelaskan hanya dengan mengatakan bahwa salah satunya “lebih maju” atau “lebih tertinggal”. Keduanya adalah sistem untuk mengorganisasi waktu, tetapi dibangun dari tradisi kronologi dan aturan kalender yang berbeda.
Kalender Bukan Sekadar Angka di Atas Kertas
Menariknya, kalender tidak hanya menentukan kapan sebuah tahun dimulai. Ia ikut membentuk cara masyarakat menempatkan hari raya, kegiatan keagamaan, administrasi, dan berbagai peristiwa dalam perjalanan satu tahun.
Ethiopia juga memiliki cara tradisional yang berbeda dalam menyebut waktu dalam sehari. Dalam sistem jam Ethiopia, pergantian hari dikaitkan dengan terbitnya matahari, sehingga penyebutan jam dapat berbeda dari sistem jam yang umum digunakan secara internasional.
Namun kalender dan sistem jam adalah dua hal yang berbeda. Kalender menjawab pertanyaan “hari dan tahun berapa?”, sedangkan sistem jam menjawab “sekarang pukul berapa?”.
Memisahkan keduanya membuat sistem waktu Ethiopia jauh lebih mudah dipahami.
Ketika Dua Kalender Bertemu
Dalam kehidupan yang terhubung secara internasional, perbedaan kalender tentu perlu dijembatani. Jadwal penerbangan, dokumen internasional, komunikasi lintas negara, dan berbagai urusan global sering membutuhkan kalender Gregorian sebagai titik acuan bersama.
Tetapi penggunaan kalender Gregorian dalam konteks internasional tidak membuat kalender Ethiopia kehilangan maknanya. Kalender lokal tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dan tradisi Ethiopia.
Pada akhirnya, kalender mengingatkan kita pada sesuatu yang cukup sederhana: waktu memang berjalan satu arah, tetapi manusia punya lebih dari satu cara untuk menghitung dan menamainya.
Kalau kamu harus menjalani aktivitas sehari-hari dengan dua kalender sekaligus, bagian mana yang menurutmu paling sulit: mengingat nomor tahunnya, mencocokkan tanggalnya, atau menyesuaikan kebiasaan perayaan dan jadwal?