Pernah turun dari pesawat di negara lain lalu merasa jalan raya tiba-tiba seperti menggunakan aturan yang berbeda? Mobil datang dari arah yang terasa “salah”, kendaraan yang berbelok mengambil posisi yang tidak biasa, dan bahkan posisi pengemudi di dalam mobil bisa terasa terbalik.
Padahal, tidak ada yang benar-benar terbalik. Kamu hanya sedang masuk ke sistem lalu lintas yang berbeda.
Di banyak negara, kendaraan berjalan di sisi kanan jalan. Namun sejumlah negara seperti Inggris, Jepang, Indonesia, Australia, India, dan Thailand menggunakan sisi kiri. Menariknya, perbedaan ini bukan muncul karena satu keputusan global tentang mana yang lebih aman. Ia terbentuk dari kebiasaan lama, perkembangan hukum, pengaruh kekuatan politik, serta biaya besar untuk mengubah sistem yang sudah terlanjur digunakan.
Poin Penting
- Lalu lintas kiri jauh lebih tua daripada mobil modern.
- Sejarah Inggris membantu menyebarkan sistem kiri ke banyak wilayah.
- Jepang menggunakan lalu lintas kiri tanpa menjadi bekas koloni Inggris.
- Posisi kemudi dan sisi jalan adalah dua hal yang saling berkaitan.
- Mengubah sisi lalu lintas membutuhkan perubahan sistem yang sangat besar.
Mari kita mulai dari sesuatu yang jauh lebih tua daripada mesin bensin: manusia yang bepergian dengan berjalan kaki, berkuda, atau menggunakan kereta.
Sebelum Ada Mobil, Jalan Sudah Punya “Kebiasaan”
Ketika jalan raya modern belum ada, orang tetap harus berbagi ruang dengan pengguna lain. Penunggang kuda, pejalan kaki, kereta, dan rombongan barang semuanya menggunakan jalur yang sama.
Pada masa itu, aturan sisi jalan belum selalu seragam seperti sekarang. Namun ada teori sejarah yang cukup terkenal tentang mengapa berjalan atau berkendara di kiri pernah masuk akal. Karena mayoritas orang menggunakan tangan kanan sebagai tangan dominan, posisi di kiri dapat membuat tangan kanan lebih dekat dengan orang yang datang dari arah berlawanan.
Dalam dunia ketika perjalanan bisa menghadirkan risiko perampokan atau konflik, posisi seperti ini mungkin memiliki keuntungan praktis. Tetapi penting untuk membedakan antara teori yang masuk akal dan fakta yang benar-benar dapat dipastikan. Tidak ada satu penjelasan tunggal yang bisa menjelaskan seluruh sejarah lalu lintas kiri.
Seiring lalu lintas semakin padat, kebiasaan lokal mulai berubah menjadi aturan yang lebih formal.
Inggris Membuat Kebiasaan Itu Bertahan Lama
Salah satu bagian penting dalam cerita ini adalah Inggris.
Ketika jumlah kereta dan kendaraan yang menggunakan jalan meningkat, aturan untuk menjaga sisi tertentu menjadi semakin berguna. Inggris kemudian mempertahankan sistem lalu lintas kiri dan secara bertahap menjadikannya bagian dari aturan jalan.
Di sinilah sejarah mulai menghasilkan efek domino.
Ketika Inggris memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah dunia, banyak daerah yang berada di bawah administrasi Inggris ikut menggunakan sistem lalu lintas yang sama. Setelah memperoleh kemerdekaan pun, sejumlah negara memilih mempertahankannya.
Alasannya cukup masuk akal. Mengganti sisi jalan bukan seperti mengganti tanda “dilarang parkir”. Seluruh sistem harus menyesuaikan.
Rambu jalan, persimpangan, marka, desain jalan, posisi halte, aturan kendaraan, kebiasaan pengemudi, sampai jenis kendaraan yang tersedia semuanya bisa ikut terdampak.
Sistem lalu lintas dapat bertahan bukan karena selalu dianggap paling unggul, tetapi karena seluruh infrastruktur sudah dibangun untuk mendukungnya.
Mengapa Jepang Juga Mengemudi di Kiri?
Kalau lalu lintas kiri hanya warisan Inggris, Jepang seharusnya menjadi pengecualian yang membingungkan.
Jepang memang merupakan salah satu negara yang menggunakan lalu lintas kiri, tetapi sejarahnya tidak sama dengan negara-negara bekas koloni Inggris. Perkembangan transportasi Jepang juga dipengaruhi oleh hubungan teknis dengan Inggris pada masa awal pembangunan sistem kereta api modernnya.
Ini menunjukkan sesuatu yang menarik: arah lalu lintas tidak selalu menyebar melalui penjajahan. Teknologi, perdagangan, hubungan internasional, dan keputusan administratif juga dapat membawa sebuah kebiasaan transportasi dari satu tempat ke tempat lain.
Indonesia juga menjadi contoh yang menarik. Sistem lalu lintas kiri bertahan dari sejarah kolonial Belanda, meskipun Belanda sendiri kemudian menggunakan lalu lintas kanan. Artinya, kebiasaan transportasi di suatu wilayah tidak selalu berubah ketika negara asalnya mengubah sistem.
Sejarah transportasi ternyata lebih mirip jaringan cabang daripada satu garis lurus.
Lalu Mengapa Banyak Negara Memilih Kanan?
Cerita tentang lalu lintas kanan berkembang melalui jalur sejarah yang berbeda.
Di Eropa, perubahan politik dan perkembangan transportasi membantu memperkuat penggunaan sisi kanan di berbagai wilayah. Prancis menjadi salah satu kekuatan penting dalam penyebaran sistem tersebut, terutama selama periode perubahan politik dan ekspansi militer di Eropa.
Di Amerika Utara, perkembangan kereta barang yang ditarik banyak kuda juga ikut membentuk kebiasaan berkendara di kanan. Posisi pengemudi dan cara mengendalikan rombongan kuda membuat sisi jalan tertentu menjadi lebih praktis dalam kondisi tertentu.
Kemudian datanglah mobil.
Menariknya, mobil tidak menciptakan pembagian kiri dan kanan dari nol. Mobil justru masuk ke dunia yang sudah memiliki aturan lalu lintas masing-masing.
Ketika industri otomotif berkembang, desain kendaraan kemudian ikut menyesuaikan sistem tersebut. Karena itu, kita mendapatkan pasangan yang sekarang terasa sangat familiar: negara dengan lalu lintas kiri umumnya menggunakan kendaraan dengan posisi kemudi di kanan, sedangkan negara dengan lalu lintas kanan umumnya menggunakan kendaraan dengan posisi kemudi di kiri.
Sisi Jalan dan Posisi Kemudi Bukan Hal yang Sama
Ada satu kesalahpahaman yang mudah muncul di sini.
“Kalau mobil setir kanan, berarti mobilnya harus berjalan di kanan.”
Tidak begitu.
Sisi kemudi justru biasanya disusun agar pengemudi memiliki posisi yang sesuai dengan sistem lalu lintas negaranya. Pada lalu lintas kiri, posisi pengemudi di kanan membantu pengemudi berada lebih dekat ke bagian tengah jalan ketika kendaraan berjalan di jalurnya.
Tujuannya berkaitan dengan visibilitas dan pengamatan terhadap lalu lintas, bukan sekadar membuat mobil terlihat “terbalik”.
Jadi, ketika kamu melihat mobil dengan setir kanan, jangan langsung menyimpulkan bahwa mobil itu sedang dirancang untuk jalan kanan. Lihat dulu sistem lalu lintas negaranya.
Mengapa Tidak Semua Negara Menyamakan Aturannya?
Secara teori, dunia bisa saja memilih satu sistem lalu lintas dan menggunakannya bersama-sama.
Dalam praktiknya, perubahan seperti itu sangat mahal dan rumit.
Bayangkan sebuah negara yang selama puluhan tahun menggunakan lalu lintas kiri tiba-tiba memutuskan untuk berpindah ke kanan. Masalahnya bukan hanya menyuruh pengemudi berpindah jalur.
Persimpangan harus dievaluasi. Marka harus diubah. Rambu harus disesuaikan. Lampu lalu lintas mungkin membutuhkan konfigurasi baru. Kendaraan dan posisi pengemudi harus dipertimbangkan. Pelatihan pengemudi perlu diperbarui. Bahkan kebiasaan masyarakat selama bertahun-tahun harus diubah.
Karena itu, ketika sebuah sistem sudah bekerja, ada alasan kuat untuk mempertahankannya.
Saat bepergian ke negara lain, jangan hanya mengingat “kiri atau kanan”; perhatikan juga cara berbelok, posisi kendaraan, dan pola persimpangannya.
Beberapa negara memang pernah melakukan perubahan besar. Swedia, misalnya, beralih dari lalu lintas kiri ke kanan pada 1967. Samoa melakukan perubahan yang arahnya justru sebaliknya pada 2009, dari kanan ke kiri.
Kedua contoh ini menunjukkan betapa besar koordinasi yang dibutuhkan ketika sebuah negara memutuskan mengubah kebiasaan lalu lintas yang sudah mengakar.
Jadi, Mana yang Sebenarnya Lebih Benar?
Ini mungkin bagian yang paling menarik.
Tidak ada alasan sederhana untuk mengatakan bahwa lalu lintas kiri secara universal lebih aman daripada lalu lintas kanan, atau sebaliknya. Keselamatan jalan dipengaruhi jauh lebih banyak faktor: desain jalan, perilaku pengemudi, penegakan aturan, kualitas kendaraan, kondisi lalu lintas, dan berbagai karakteristik lingkungan.
Yang membuat sistem kiri atau kanan terasa “benar” bagi kita biasanya adalah kebiasaan.
Kalau sejak kecil kamu terbiasa melihat kendaraan datang dari satu sisi, otak akan membangun pola otomatis. Ketika berada di negara dengan sistem berbeda, pola tersebut bisa tiba-tiba terasa aneh meskipun aturan lokalnya sama sekali tidak aneh.
Itulah mengapa perbedaan sisi jalan sebenarnya merupakan contoh kecil dari sesuatu yang lebih besar: banyak hal yang kita anggap sebagai “cara normal” ternyata hanyalah hasil dari sejarah yang kebetulan menjadi kebiasaan.
Mobil modern mungkin baru berusia relatif muda, tetapi jalan yang mereka gunakan membawa warisan jauh lebih tua.
Dan ketika kamu melihat kendaraan berjalan di sisi yang berbeda saat berada di negara lain, kamu sebenarnya sedang melihat sejarah yang masih bergerak setiap hari. Kalau suatu saat kamu harus mengemudi dalam sistem lalu lintas yang berbeda dari yang biasa kamu gunakan, bagian mana dari kebiasaan berkendara kamu yang menurutmu paling sulit untuk diubah?